CERITA SEPENGGAL SENJAKU - #PUISI SENJA, BUIH, MEMILIKI DAN KEHILANGAN

PUISI SENJA "Ingat kita bergandengan tangan, sore itu menatap langit Diantara perjumpaan dan perpisahan, senja pernah menj...

PUISI SENJA
"Ingat kita bergandengan tangan,
sore itu menatap langit
Diantara perjumpaan dan perpisahan,
senja pernah menjadi bait

Dan satu hari itu kau pernah berkata
Akan selamanya menyukai senja
Hangat sentuhan sinar matahari
Indah warna langit sore hari
Dan dekap tubuhmu memeluk tubuhku
Manisnya rasa bibirmu saat mencium bibirku
Semua rasa yang kita cipta
Aku jatuh cinta pada senja…

Tapi setelah itu kau tak pernah terlihat lagi
Saat sekejap dekap tubuhmu tak sehangat dulu
Saat seketika kecup bibirmu tak manis lagi
Dan kita sepakat untuk tidak bertemu
Matahari sore sepenuhnya tenggelam
Ombak pun akhirnya ikut terdiam
Dan yang tersisa hanya dinginnya angin laut
Serta malam yang tertutupi kabut

Seperti itu senjaku hilang…"

PUISI BUIH
"Pernah ada yang bertanya
Mengapa aku suka mengabadikan foto ombak
Aku memang suka laut

'Tapi sudah berkali-kali kau memotretnya'
Lanjut temanku bertanya
Laut, ombak, buih

Kau tahu mengapa?
Seperti cerita kesukaanku dalam buku dongeng
Saat cinta tidak terbalas
Sang putri berubah menjadi buih
Seperti itulah…"

PUISI MEMILIKI DAN KEHILANGAN
"Saat kita mengerti bahwa orang lain adalah individu yang merdeka
Yang mempunyai pikir, rasa dan cara
Yang bebas hidup dan menentukan pilihannya
Tanpa perlu dipertanyakan apa, mengapa dan bagaimana
manusia bukan benda yang dapat kita punya

Dan saat itu kita tahu tak ada yang pernah memiliki atau kehilangan
Aku tak pernah memilikimu
Tak pernah kehilanganmu
Begitupun kamu tak pernah memilikiku
Tak pernah kehilanganku"

Hayo, jangan pada baper setelah baca puisi senja, puisi buih dan puisi memiliki dan kehilangan ya! Kalian pasti heran mengapa aku tiba-tiba menulis puisi-puisi semacam ini. Jawabannya cuman satu: iseng. Aku memang suka sastra dan puisi namun tidak pernah memiliki pengalaman (atau kesempatan) dibidang ini sama sekali. Dan aku bukannya ingin menjadi sok ke-sastra-sastra-an sekarang. Hanya penikmat sajak-sajak indah yang meneduhkan. Ini kali keduanya aku menulis seperti ini. Puisi pertama yang pernah aku tulis adalah Puisi Jogja (jika kalian tertarik untuk membacanya kalian bisa membacanya di 'One Fine Day in Jogja'). Rasanya tidak biasa aku menulis dalam Bahasa Indonesia karena aku selalu menulis dalam Bahasa Inggris. Tapi kupikir, mengapa tidak sesekali mencoba menulis dalam bahasaku sendiri. Semoga puisi yang kutulis tidak membuat kalian berpikir yang aneh-aneh tentang diriku. Atau menebak-nebak isi hati atau cerita dibalik penulisannya. Aku tahu semua orang memiliki sisi selalu ingin tahu, kita semua begitu. Jangan diambil pusing, ini bukan tentangmu. Cerita dalam puisi ini bisa tentang siapa saja, termasuk tentangku, tentangmu, tentang dia, tentang temanku, tentang temanmu, tentang temannya, tentang kita atau tentang mereka. Aku hanya menuangkan cerita dalam bait yang sekiranya dapat memberi suatu rasa pada jiwa-jiwa yang membacanya. Siapa tahu ada yang tersenyum mengingat kenangan manis yang pernah Ia punya? Atau tertegun melenguh karena hati menjadi gundah setelah membacanya?

Untuk kali ini bonus tiga puisi dalam satu cerita, berikutnya akan ku jadikan satu puisi saja seperti pada One Fine Day in Jogja. Aku akan menulis puisi lagi dilain waktu. Tapi tidak akan sering, jadi jangan khawatir, blog ini tidak akan berubah menjadi blog sastra penuh dengan puisi, kok. Anggap saja ini selingan diantara tulisan-tulisan lainnya. Sebuah sisi yang baru aku ungkap kepada kalian. Sisi diriku yang menyukai senja dan menunggu senjaku menjadi nyata. Semoga kalian terhibur dengan tulisan-tulisanku.
❤️
xx

You Might Also Like

0 comment(s)

INSTAGRAM @diaspredani